EFEKTIVITAS PEMBERIAN REBUSAN DAUN SIRIH TERHADAP KEPUTIHAN KETIKA HAMIL PADA IBU-IBU PASCA BERSALIN DI BPS BIDAN AMELIA AGUSTINA DESA BATANG HARI LAMPUNG TIMUR TAHUN 2026
DOI:
https://doi.org/10.55919/jk.v10i2.277Kata Kunci:
daun sirih, keputihan, ibu pascabersalin, terapi komplementer, kebidananAbstrak
ABSTRACT
Vaginal discharge (fluor albus) is a common gynecological complaint experienced by women from pregnancy onward and may continue into the postpartum period, resulting from hormonal changes, increased vaginal secretion, and decreased immunity that facilitate pathogenic microbial growth. One non-pharmacological approach widely practiced in primary midwifery care is the use of boiled betel leaf water (Piper betle L.), which is phytochemically known to contain flavonoids, tannins, phenols, and essential oils with antibacterial and antifungal potential. This study aimed to determine the effectiveness of administering boiled betel leaf water on the healing of vaginal discharge that began during pregnancy among postpartum mothers at the Independent Midwifery Practice of Amelia Agustina, Batang Hari Village, East Lampung. The study was conducted starting 13 May 2026 using a descriptive pre-experimental one-group pretest-posttest design involving 40 respondents. Each respondent was treated with a daily genital wash using boiled betel leaf water (1 liter of water boiled with 5 betel leaves) throughout the postpartum period, followed by a final observation to assess recovery status. Data were analyzed univariately. The results showed that of the 40 respondents, 35 (87.5%) recovered from vaginal discharge after receiving boiled betel leaf water, while 5 (12.5%) still experienced the complaint. These findings indicate that boiled betel leaf water is effective as a complementary therapy for vaginal discharge in postpartum mothers, although further experimental studies with control groups are needed to strengthen causal evidence.
Keywords: betel leaf, vaginal discharge, postpartum mother, complementary therapy, midwifery
ABSTRAK
Keputihan (fluor albus) merupakan salah satu keluhan ginekologis yang umum dialami perempuan sejak masa kehamilan dan dapat berlanjut hingga masa pascapersalinan (nifas) sebagai akibat perubahan hormonal, peningkatan sekresi vagina, dan penurunan daya tahan tubuh yang mempermudah pertumbuhan mikroorganisme patogen. Salah satu upaya penanganan nonfarmakologis yang telah lama diterapkan secara empiris pada layanan kebidanan primer adalah pemanfaatan air rebusan daun sirih (Piper betle L.), yang secara fitokimia diketahui mengandung senyawa flavonoid, tanin, fenol, dan minyak atsiri yang berpotensi sebagai antibakteri dan antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian air rebusan daun sirih terhadap kesembuhan keputihan yang dialami sejak kehamilan pada ibu-ibu pascabersalin di BPS Bidan Amelia Agustina, Desa Batang Hari, Lampung Timur. Penelitian dilaksanakan mulai 13 Mei 2026 menggunakan desain deskriptif pra-eksperimental one-group pretest-posttest terhadap 40 responden. Setiap responden diberikan perlakuan berupa cebok menggunakan air rebusan daun sirih (1 liter air direbus bersama 5 lembar daun sirih) setiap hari selama masa nifas, kemudian dilakukan observasi akhir untuk menilai status kesembuhan keputihan. Data dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 40 responden, sebanyak 35 orang (87,5%) mengalami kesembuhan keputihan setelah diberikan air rebusan daun sirih, sedangkan 5 orang (12,5%) masih mengalami keluhan keputihan. Temuan ini mengindikasikan bahwa air rebusan daun sirih efektif sebagai salah satu alternatif terapi komplementer dalam mengatasi keputihan pada ibu pascabersalin, meskipun diperlukan penelitian lanjutan dengan desain eksperimental dan kelompok kontrol untuk memperkuat bukti hubungan kausal.
Kata kunci: daun sirih, keputihan, ibu pascabersalin, terapi komplementer, kebidanan
Unduhan
Diterbitkan
Versi
- 2026-09-29 (2)
- 2026-09-28 (1)



